Monday, July 10, 2017

[Review] Lensa Fujian 25mm f1.8, Murah dan Ringan untuk Traveling.



Traveling dan fotografi bagaikan Romeo dan Juliet. Bagaikan Rama dan Shinta. Bagai Song Jong Ki dan Song Hye Kyo. Tak terpisahkan dan menjadi satu kesatuan. Jalan-jalan tanpa motret ya hampa. Gak ada bukti kalo kita sudah pernah berkunjung ke suatu tempat.

Dulu saya adalah pengguna Canon DSLR. Kemana-mana selalu bawa 60D dan lensa all around 18-135mm supaya bisa motret landscape sekaligus nyetrit candid. Tapi lama-lama pegel juga, jadi saya coba buat 'murtad' ke mirrorless Fujifilm.

Nah, karena tujuannya pindah ke mirrorless adalah supaya enggak pegel, jadi saya gak mungkin pakai lensa 18-135mm nya Fujifilm yang ukurannya tetep lumayan besar dan harganya jauh diatas 18-135mm nya Canon. Jadi saya memilih lensa fix.

FUJIAN 25mm f1,8
Lensa fix yang saya coba ini murah meriah hore. Namanya lensa Fujian 25mm f1,8. Harganya? Cuma 400ribuan. Silakan cari sendiri ya di toko online banyak banget yang jual kok. Kenapa murah? Karena lensa ini adalah lensa manual. Artinya, pengaturan fokus dan aperture dilakukan secara manual melalui bodi lensa. Untuk mengincar kepraktisan, pengaturan ISO dan Shutter Speed saya setel Auto melalui bodi kamera. Oh iya, lensa ini khusus mirrorless ya, tidak bisa buat DSLR.

Kecil dan ringan
BODI
Meskipun harganya terjangkau, ternyata lensa ini tidak terlihat murahan. Bodinya terbuat dari bahan metal. Mountingnya juga terbuat dari metal dengan mounting ulir C-mount. Kalo pembelian online biasanya disertakan juga dengan adapternya sesuai tipe kamera yang kita gunakan. Di paket pembelian yang saya dapatkan juga ada 1 buah converter untuk foto macro. Ring fokus berada di bagian paling depan lensa dengan grid untuk memudahkan pengaturan fokusnya.

Ring aperture berada di bagian belakang dengan mekanisme putar tanpa indikator 'klik' yang biasanya ada pada lensa lebih mahal. Kekurangannya, kadang aperture yang sudah kita pilih suka kesenggol jadi pindah posisi ke aperture lain karen tidak nge'klik' itu tadi. Kelebihannya, untuk perekaman video jadi bisa mainin fokus manual dengan lebih leluasa karena perpindahan aperturenya jadi terasa lebih smopth.

Bobot lensa yang ringan dan ukurannya yang kecil jadi salah satu kelebihan utama lensa ini, terutama karena akan digunakan untuk traveling. Dengan berat ringan namun berbahan metal, tentunya lebih enak buat diseselin ke backpack kita yang udah penuh.

KINERJA
Dengan focal length 25mm dan digunakan pada mirrorless Fujifilm yang memiliki sensor berukuran APS-C, makan focal lengthnya menjadi setara 37.5mm. Untuk focal length segini ternyata lumayan enak digunakan untuk motret saat jalan-jalan.

Tidak seperti saudaranya lensa Fujian 35mm (yang kalo saya baca reviewnya di internet) bokehnya swirly, lensa ini bokehnya lebih ke bokeh normal seperti lensa fix lain pada umumnya. Dengan bukaan maksimal di f1,8 maka lensa ini cukup bisa diandalkan untuk low light photography. Jadi baik siang maupun malam masih bisa motret dengan nyaman.

Ketajaman gambar cukup merata terutama pada f4 ke atas. Pada f1,8 bagian tepinya agak soft. Wajar sih karena lensa yang jauh lebih mahal juga banyak yang karakternya mirip seperti ini. Untuk harga yang ditawarkan, ketajaman lensa ini terbilang memuaskan.

Low light performance
Bokeh sample
Bukan emak saya


KESIMPULAN
Lensa ini cocok:
Buat para traveler yang memakai mirrorless dan masih menggunakan lensa kit bawaan pembeliannya,  dan tidak mau menghabiskan dana terlalu banyak untuk membeli lensa, saya cukup merekomendasikan lensa Fujian ini. Bukaan yang jauh lebih besar dibandingkan lensa fix (yang biasanya mentok fi f3,5) memudahkan kita saat traveling di malam hari. Ukuran yang kecil juga bikin kamera kita makin enak dibawa, enggak kuatir lensanya kepentok karena ukurannya yang panjang. So, dengan 400ribuan, lensa ini boleh banget buat menemani lens kit saat traveling.

Lensa ini tidak cocok:
Buat traveler yang lebih mementingkan kualitas optik lensa. Karena meskipun hasilnya terbilang tajam, tentu tidak bisa dibandingkan dengan Fujinon 35mm f1,4 yang harganya bisa 20x lipatnya. Untuk yang malas direpotkan dengan pengaturan manual juga lebih baik tetap pertahankan lensa kit dan menabung untuk mendapatkan lensa fix dengan autofokus.

Saturday, July 1, 2017

Keliling Singapore-Malaysia 7 hari cuma 1jutaan - Day 7

Hari terakhir ini tidak ada kejadian apa-apa. Saya hanya bangun jam 4 pagi, cuci muka dulu di toilet, lalu mampir McD sebentar buat beli burger buat sekedar ganjel perut. Maklum biasanya saya kalo di pesawat suka laper meskipun perjalanannya singkat.

Habis makan, saya langsung check in di counter AirAsia. Meskipun masih pagi, tapi ternyata antriannya sudah cukup panjang. Selesai check in dan dapet boarding pass, saya langsung masuk ke area keberangkatan. Di KLIA2 ini lokasi boarding roomnya cukup jauh dari depan. Jadi saran saya kalo datang jangan mepet yak.

Menunggu sebentar lalu petugas sudah mulai memanggil untuk masuk pesawat. Dan ya, berakhir sudah trip saya selama seminggu di 2 negara dan 4 kota ini. Welcome to Indonesia. Adios!



Rincian total biaya:
Day 1 : 2 SGD
Day 2 : 23.3 SGD
Day 3 : 7.8 SGD
             114 MYR
Day 4 : 52 MYR
Day 5 : 85 MYR
Day 6 : 45.9 MYR

Total : SGD 33.1 sekitar Rp 320.000
           MYR 296.9 sekitar Rp 930.000

Tiket pesawat ke Singapore : Gratis (berkat ngumpulin AirAsia BIG Point) cuma bayar Airport Tax Rp 150.000
Tiket Pesawat dari KL : MYR 113.99 sekitar Rp 350.000

TOTAL ALL IN: Rp 1.750.000

Friday, June 23, 2017

Keliling Singapore-Malaysia 7 hari cuma 1jutaan - Day 6

Selamat pagi cikgu!

Bangun agak siang lalu langsung mandi, setoran, beberes, lalu check out. Sarapan dulu di KFC seberang jalan. KFC disini menu breakfastnya pakai nasi hainan, ayam sepotong gede, telor ceplok, sama kopi. Harganya murah banget cuma MYR 5,9. Kenyang makan, saya jalan ke stasiun Bukit Bintang lagi untuk menuju ke Batu Caves.

Cara menuju Batu Caves, dari Bukit Bintang balik lagi ke KL Sentral. Pokoknya kalo mau kemana-mana pusatnya ya di KL Sentral ini. Dari KL Sentral, naik KTM sekali lagi menuju ke stasiun Batu Caves. Berdaarkan jadwal, keretanya akan datang sekitar 15 menit sekali. Perjalanan dari KL Sentral menuju Batu Caves lumayan jauh juga ternyata. Sekitar 30 menit lebih barulah kereta memasuki stasiun Batu Caves.

Keluar dari stasiun kita akan langsung disambut oleh patung raksasa. Saya sendiri kurang tahu nama dari patung-patung yang ada disini karena memang kurang mengeksplore lebih dalam. Lanjut menyusuri jalan setapak mengikuti arah keramaian, saya akhirnya tiba di pelataran luas di depan Batu Caves dengan ratusan (atau ribuan) anak tangganya yang menjulang tinggi menuju arah gua, dengan patung dewa berukuran super besar tepat di depan guanya.

Mengingat jauhnya jarak tempuh untuk memasuki gua dengan berjalan kaki menaiki tangga super tinggi itu, tidak terlalu disarankan bagi yang tidak terbiasa berolahraga untuk naik ke atas. Karena capeknya bukan cuma pas naik aja, turunnya pun juga capek. Saya sendiri jarang olahraga, tapi berhubung udah jauh2 kesini ya nekat aja naik ke atas. Sepanjang perjalanan menaiki tangga saya liat beberapa orang keturunan India yang naik turun membawa barang2 seperti minuman dsb dari bawah untuk dijual di kios yang ada di atas. Sepertinya pekerjaan rutin mereka memang seperti itu, tiap hari naik turun angkat2 barang2 berat. Luar biasak.

Selama menaiki tangga kita juga bakal dihibur dengan hadirnya monyet-monyet yang meminta cemilan ke pengunjung. Di gua ini memang banyak populasi monyet yang masih alami. Selain monyet, banyak juga kelelawar yang baru bisa ditemui setelah memasuki mulut gua.

Akhirnya setelah susah payah, saya sampai juga di mulut gua. Begitu memasuki gua dengan langit-langit yang tinggi ini, hawanya ternyata cukup sejuk jika dibandingkan saat di bawah tadi. Di sini juga ada beberapa kios yang menjual minuman dingin, pernak pernik, hingga perlengkapan sembahyang (gua ini masih dipakai untuk ritual keagamaan masyarakat keturunan India disini).

Saya maju lagi menyusuri gua. Eh ternyata di dalamnya masih ada tangga lagi yang mengarah ke atas. Meskipun capek, tapi sayang kalo enggak lanjut sampai ke ujung. Jadi saya jalan terus, sampai akhirnya di ujung gua ada pelataran luas dengan beberapa altar sembahyang di sisinya. Bagian atas gua disini terbuka, jadi cahaya matahari bisa masuk menyinari pelataran ini.

Sudah puas eksplorasi gua, saya turun lagi ke bawah. Sebenarnya di pertengahan tangga ada jasa tour untuk menyusuri bagian lain gua yang lebih alami dan lebih dalam. Kita bakal ikut satu rombongan dengan pemandu menyusuri bagian lain gua yang tidak terbuka untuk umum. Untuk ikut tour ini dikenakan biaya dan waktu itu antrinya cukup panjang, jadi saya skip aja.

Sampai di bawah, kepanasan dan kecapekan, saya beli minuman dingin dulu di minimarket yang ada di bawah. Beli minuman dingin seharga MYR 3. Sekalian ngadem juga di toko oleh-oleh yang ada ACnya.

Next, saya balik lagi ke stasiun Batu Caves untuk kembali ke KL Central. Dari KL Central, saya naik monorail lagi untuk menuju ke Petaling Street. Petaling Street ini adalah kawasan China Townnya Kuala Lumpur. Kalo malem disini banyak yang jualan makanan dan juga souvenir murah buat oleh-oleh. Tapi berhubung saya kesitu waktu masih agak sore, jadi beberapa toko masih tutup. Tapi itu pun sudah ramai sama pejalan kaki dan pedagang yang udah buka pun udah sibuk gembor2 menjajakan dagangannya. Di sini karena kebanyakan tempat makannya jualan seafood (saya gak makan seafood karena alergi) jadilah saya mampir beli makan di Texas Fried Chicken yang di Indonesia pun saya gak pernah makan. Menunya ya standar aja nasi+ayam+minum. Harganya kalo gak salah sekitar MYR 10. Saya milih makan disini juga karena ini satu2nya restoran berAC yang harganya masih masuk budget. Tempat makan lain adanya di pinggiran jalan, sedangkan cuacanya waktu itu lagi panas2nya. Jadi sekalian ngadem disini.

Selesai makan, karena kaki masih pegel banget efek dari naik turun tangga tadi, jadi saya istirahat dulu lumayan lama disini. Sebenarnya saya berencana ke Petronas lagi buat lihat show air mancur. Tapi berhubung kaki udah ga bisa diajak kompromi, saya memutuskan buat langsung berangkat ke bandara saja. Jadi dari Petaling Street, saya balik lagi ke KL Central untuk beli tiket bus menuju bandara. Berhubung tiket pulang ke Indonesia saya berangkat pagi banget jam 6, jadi daripada subuh2 harus naik taxi yang mahal mendingan saya nginep bandara lagi.

Loket penjualan tiket bus di KL Central ada di bagian bawah. Dari hall utama, menuju ke eskalator  arah mall tapi jangan naik, langsung menuju sebelah kanannya aja disitu aja eskalator turun ke bawah menuju loket penjualan tiket bus dan juga tempat pemberangkatannya. Kalo mau menuju Genting Highland via bus juga bisa beli tiket disini.

Tiket menuju Kuala Lumpur International Airport waktu itu harganya MYR 12 per orang. Busnya berangkat sesuai schedule meskipun belum penuh. Perjalanan menuju ke airport cukup lama, hampir 2 jam. Sampai airport waktu itu sudah sekitar jam 9 malam. Jadi saya langsung bergegas nyari tempat buat tidur. Di KLIA ini banyak tempat yang bisa kita pake buat tidur nyenyak. Waktu itu saya bahkan dapat 1 kursi panjang buat saya sendirian, jadi bisa selonjoran. Banyak juga orang yang tidur bareng disitu, dan CCTV juga tersedia, jadi sepertinya cukup aman buat nginap disini. Good night!

Pengeluaran Day 6:
- Sarapan : MYR 5.9
- Minuman : MYR 3
- Makan sore : MYR 10
- City transport (KTM, monorail) : +/-MYR 15
- Airport bus : MYR 12

Total : MYR 45.9

Saturday, June 17, 2017

Keliling Singapore-Malaysia 7 hari cuma 1jutaan - Day 5

Selamat pagi cikgu!
Hari ke-5 trip ini saya menuju ke Kuala Lumpur dengan bus.

Bangun pagi, setoran rutin sama mandi bersih-bersih dulu, lalu saya check out dan mulai menuju ke Terminal Melaka Sentral. Dari hostel, saya jalan kaki dulu ke depan Red Church untuk naik bus Panorama Melaka (bus kota untuk menuju ke Terminal Melaka Sentral).

Mungkin karena saya yang gak tau jadwal busnya atau apa, tapi waktu itu saya menunggu bus datang cukup lama, lebih dari setengah jam. Setelah bus datang, saya langsung naik saja dan membayar (kalo gak salah) MYR 2 ke sopirnya. Duduk manis, lalu bus pun melaju ke Melaka Sentral.

Sampai di Melaka Sentral, saya beli tiket dulu menuju ke Kuala Lumpur. Dari sini saya naik bus Mayangsari dengan harga tiket MYR 12. Sambil menunggu bus berangkat kurang lebih 1 jam lagi, saya cari makan dulu di terminal. Ada 1 tempat makan yang cara pesennya mirip warteg. Makanannya ditata di balik etalase kaca, lalu kita memilihnya dengan cara "touchscreen". Mirip lah ama warteg. Saya makan disini dengan lauk ayam kecap dan sayur habisnya MYR 10.

Perjalanan dari Melaka Sentral menuju Kuala Lumpur kira-kira 2 jam sahaja. Saya turun di Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Terminalnya megah, beda banget sama yang di Johor. Papan penunjuk arahnya banyak dan jelas, ada pusat informasi juga, jadi kita yang baru pertama kali kesini gak perlu takut nyasar.

TBS
Dari TBS saya menuju ke landmark iconnya Malaysia, Petronas Twin Tower. Naik KTM sekali menuju ke KL Sentral untuk transit disana sekali. Dari KL Sentral lanjut naik KTM lagi dan turun di KLCC. Rute kereta di KL ini cukup mudah dipahami. Naik busway malah lebih susah karena lebih banyak jalurnya. Tapi kalo masih bingung, lebih baik jaga-jaga save image KL railway map di ponsel aja. Atau bisa juga tanya petugas yang ada di masing-masing stasiun. Rata-rata mereka paham bahasa Indonesia meskipun akhirnya dijawab pakai bahasa Melayu. Tapi kalo sering nonton Upin Ipin pasti paham lah sikit2.

Berhenti di stasiun KLCC, stasiun ini letaknya tepat berada di bawah mall Petronas. Saya berencana makan siang di foodcourt mall ini karena saya pernah baca di salah satu blog (lupa blognya siapa) kalo disini banyak makanan enak dan murah. Sebelumnya, saya keluar dulu ke bagian taman mall buat foto-foto dengan background Petronas. Gak afdol donk kalo ke KL belom foto disini. Tamannya luas banget dengan kolam plus air mancur cantik di tengah2nya. Kalo malem ada show air mancur gratis disini, tapi saya waktu itu gak sempet liat.




Setelah foto2, baru saya naik ke bagian atas mall untuk makan siang. Di food courtnya ada banyak banget tempat makan, tapi akhirnya saya pesan Hainan Chicken Rice seharga +/- MYR 8. Murah banget sih buat ukuran mall luar negeri. Jauh lebih murah daripada makan di mall Jakarta. Rasanya enak dan porsinya pas buat 1 orang. Minumnya saya pesen durian cendol khasnya Malaysia seharga MYR 5. Murah dan enak. Sayang duriannya kurang banyak aja.

Kenyang, saya muter-muter di mall sebentar sambil cuci mata, lalu naik KTM lagi balik ke KL Sentral station. Dari KL Sentral, saya menuju ke stasiun monorail. Stasiun ini letaknya ada di mall yang terkoneksi langsung dengan KL Sentral. Tinggal ngikutin aja petunjuk arahnya sampe ke mall, lalu naik 1 lantai, sampai deh di stasiunnya. Dari Stasiun monorail KL Sentral, saya menuju ke stasiun Bukit Bintang, untuk menuju ke hostel yang sudah saya booking sebelumnya via booking.com.

Di KL saya menginap di Royal Palm Lodge, yang lokasinya cuma satu kali nyebrang dari KFC di Bukit Bintang. Saya membayar MYR 20 untuk 1 bed di 4 bed dormitory room dengan AC dan kamar mandi luar. Cukup murah dan kamarnya lumayan bersih. Saya sekamar sama dua orang solo backpacker dari Eropa. Ngobrol-ngobrol bentar sama mereka. Iri banget kalo denger cerita trip mereka yang bisa sampe berbulan-bulan. Haduh.



Di sini saya istirahat bentar sambil bebersih. Menjelang malam, saya keluar lagi buat cari makan dan jalan-jalan di sekitar Bukit Bintang dan Alor Street. Di Bukit Bintang ini adalah areanya backpacker di KL ngumpul, jadi disini banyak hostel dan tempat makan murah. Di Alor Street, banyak tempat makan seafood dan chinese food yang pengunjungnya rame banget. Tapi saya gak nyoba makan disitu karena dilihat dari penampilan pengunjungnya sepertinya harganya kurang masuk budget saya. Jadi saya jalan-jalan aja sepanjang alor street, sampai ke jalan yang banyak tempat pijat refleksi dengan cewek-cewek terapisnya yang nawarin layanannya sampai ke trotoar.

Alor

Alor
Dari situ saya menuju ke arah Berjaya Times Square, salah satu mall terbesar di KL dengan Indoor Theme Park terbesar di Malaysia. Malnya gede banget sampe ada buku mapnya sendiri yang dibagikan gratis di lobbynya. Di lantai bawahnya (dari lobby turun 1 atau 2 lantai) ada food court. Ada 1 tempat makan prasmanan yang sepertinya lumayan murah, jadi saya makan disini. Makan nasi+ayam+sayur dengan porsi kuli bangunan cuman habis MYR 10.

Kenyang makan, jalan-jalan lagi muterin mall dan sekitar Bukit Bintang, lalu balik lagi ke hostel untuk istirahat.

Pengeluaran Day 5
- Tiket Bus Melaka-KL : MYR 12
- Sarapan : MYR 10
- Makan siang : MYR 13
- Hostel 1 malam : MYR 20
- Makan malam : MYR 10
- Transportasi dalam kota (KTM & Monorail) : +/- MYR 20

Total : MYR 85

Monday, June 12, 2017

Keliling Singapore-Malaysia 7 hari cuma 1jutaan - Day 4

Selamat pagi cikgu!

Pegel banget ini kaki.

Hari kedua di Melaka. Saya bangun agak siang. Mager. Bangun, bikin sarapan dulu indomi goreng yang dibawa dari Indonesia. Dapet rejeki, dikasi telor rebus sama temen sekamar saya yang dari China itu. Lumayan ada tambahan lauknya buat makan mie hehe. Sekalian ngopi dulu, kopinya bawa kopi sachet dari Indonesia juga, biar ngirit.

Abis sarapan, mandi, terus saya jalan menuju ke kawasan intinya Melaka, yaitu di daerah Stadhuys. Disini objek wisatanya saling berdekatan. Ada kapal Cheng Ho, Red Church, Petaling Street, Reruntuhan gereja, Melaka River, Mall, dll. Jalan kaki dari hostel, pertama-tama saya ngelewatin Menara Taming Sari. Kita bisa naik ke menara ini buat ngeliatin view kota Melaka dari ketinggian. Antrinya panjang dan bayar pula, jadi saya skip aja.

Menara Taming Sari

Dari arah menara saya jalan terus menyusuri pinggir Melaka River. Gak terlalu jauh dari menara ada replika kapal Cheng Ho yang mirip kayak yang ada di Semarang. Di dalamnya ada semacam museum yang masuknya bayar. Skip. Pokoknya kalo bayar skip.

Kapal Cheng Ho

Maju lagi, ketemu semacam kincir air raksasa. Kabarnya dulu kincir ini dipergunakan oleh warga Melaka. Tapi sekarang jadi semacam monumen yang cuma dipakai turis untuk foto-foto di depannya.
Maju lagi, saya ketemu semacam benteng pertahanan yang sudah tinggal reruntuhan. Melaka memang jaman dulu banyak bentengnya karena daerah ini berada di jalur perdagangan laut, sehingga keamanannya perlu diperketat oleh pemerintah pada saat itu. Di benteng ini juga masih terdapat beberapa meriam sisa peninggalan jaman dulu.



Next, tidak jauh dari menara, saya tiba di pusat wisata kota Melaka. Apalagi kalo bukan Gereja Merah yang terkenal itu. Waktu itu karena kebetulan hari minggu, jadi di dalam gereja masih ada peribadatan. Berhubung gereja ini terletak di daerah turis, otomatis banyak banget turis yang cuma masuk sebentar terus keluar lagi. Saya ikut masuk, ikut peribadatannya sebentar tapi berhubung misanya pakai bahasa inggris yang susah dipahami, jadi saya keluar lagi. Di dalam gereja ada beberapa prasasti dari batu yang bentuknya seperti batu nisan ala Eropa. Batu-batu ini diletakkan berjejer di pinggiran ruangan, bersandar pada tembok.



Keluar dari gereja, karena cuaca panas, saya nyobain beli jus semangka utuh yang banyak dijual di pinggiran sungai. Jus ini terbuat dari satu buah semangka utuh yang dilubangi sedikit di atasnya, lalu bagian dalamnya diblender dengan alat semacam pengocok adonan kue. Setelah buahnya jadi jus, diberi es batu biar dingin, lalu siap diminum pake sedotan. Seger banget terutama kalo dapet buahnya pas yang manis. Harganya murah cuma sekitar 10 ringgit. Tapi kalo sendirian sih enggak habis karena banyak banget. Mending pesen satu buat ber 2-3 orang.

Melaka River

Selanjutnya saya menyusuri Jonker Street yang lokasinya berada di seberang sungai dari arah Red Chruch. Tinggal nyeberang jembatan satu kali juga nyampe. Disini saya pengen nyobain makanan khas Melaka yang terkenal yaitu Rice Balls, nasi yang dibentuk bulet-bulet mirip bola. Yang terkenal disini namanya Famosa Chicken Rice Balls. Begitu nyampe, ternyata buat makan disini kudu antri dulu lumayan panjang. Saya ngantri ada hampir setengah jam buat akhirnya dapet tempat duduk. Saya pesen Rice Balls 1 porsi, lalu lauknya pesen ayam panggang sama roasted pork masing-masing 1 porsi. Porsinya ternyata gede juga, cukup buat 2 orang. Kenyang deh. Makan segitu banyaknya plus minum es jeruk cuman abis sekitar 110ribu.

Jonker Street


Famosa Chicken Rice Balls

Setelah kenyang, saya jalan lagi menyusuri Jonker Street buat nyari pencuci mulut. Lalu saya nemu cemilan durian puff. Ini kue puff kecil yang isinya durian. Enak banget ini. Harganya kalo ga salah sekitar 2RM.

Next, saya jalan lagi me arah reruntuhan gereja St. Paul. Reruntuhan ini letaknya ada di atas bukit tepat di samping Red Church. Cukup lumayan capek juga naeknya, apalagi cuacanya panas beud. Begitu sampe di atas, selain reruntuhan, kita juga bisa melihat pemandangan kota Melaka dan lautnya. Lumayan lihat dari sini kan gratis, daripada naek menara taming sari kudu bayar.

Reruntuhan gereja St. Paul cukup keren, masih terasa aura megah sisa peninggalan masa lampau. Di bagian dalamnya lagi-lagi ada bekas batu-batu nisan yang dijejer di pinggiran. Ada juga semacam tempat untuk melempar koin entah untuk apa. Mungkin bisa mengabulkan keinginan. Mungkin lho ya.

Di bagian depan reruntuhan bangunannya juga terdapat banyak makam orang Eropa jaman dulu bekas penjajah disini. Lumayan horor juga auranya di sekitar kuburan, apalagi mengingat umur makam itu sudah hampir 100 tahun. Kalo gak salah, Melaka ini dulunya dijajah oleh Portugis deh. Atau Inggris ya?

Next, settled menuruni bukit, saya menyeberang jalan menuju ke Dataran Pahlawan Shopping Mall. Ngadem dulu di mall karena matahari tambah sadis aja panasnya. Mall ini cukup besar. Ada 2 mall bersebelahan, yang satunya saya lupa namanya. Disini mampir dulu beli ice cone di McD MYR 2 buat nyegerin kerongkongan. Disini saya menghabiskan waktu muterin mall sambil cuci mata. Menjelang sore, saya balik lagi ke hostel. Bersih-bersih dulu, udah keringetan jalan kaki kepanasan seharian.

Malamnya, saya balik lagi ke Jonker Street. Di Jonker Street kalo malam berubah menjadi area pedagang kaki lima dadakan, jadi otomatis bakal banyak street food yang bisa saya cicipin. Rata-rata street food disini cuma snack yang harganya terjangkau. Kalo dirupiahin cuma sekitar 7 ribu per porsi. Jadi disini saya bisa nyicipin beberapa macam makanan. Yang perlu diperhatikan, Jonker Street kalo malem ruame banget. Jadi jangan bawa duit banyak2, waspada terus, jangan bawa barang terlalu banyak juga. Ramenya sampe buat jalan kaki aja susah.

Setelah dari Jonker Street, saya kembali lagi ke hostel untuk beristirahat karena tidak ada destinasi lain lagi yang akan saya kunjungi. Sebenarnya Melaka memang tidak terlalu besar dan destinasi wisatanya terpusat di situ-situ aja, jadi 1-2 hari sudah cukup untuk eksplorasi Melaka.

Next day, saya berangkat menuju Kuala Lumpur.

Pengeluaran Day 4
- Sarapan : gratis
- Makan siang Famosa Chicken Rice Balls : +/- MYR 35
- Ice Cone McD : MYR 2
- Jajan street food di Jonker Walk malam hari : MYR 15

Total : MYR 52

Wednesday, May 3, 2017

Keliling Singapore-Malaysia 7 hari cuma 1jutaan - Day 3

Hari ketiga ini saatnya pindah negara menuju Malaysia, tepatnya ke kota Melaka. Negara bekas jajahan Inggris ini berada cuman selemparan batu dari Singapore. Tapi untuk menuju ke Melaka membutuhkan waktu sekitar 4 jam.

Bagaimana cara termurah menuju Melaka?

Pertama-tama saya menuju terminal bus yang lokasinya ada di Queen Street setelah sebelumnya sarapan dulu di foodcourt Kopitiam di deket Bugis (makan nasi+lauk+sayur seharga SGD 4.5). Cukup naik MRT lalu turun di Bugis Station. Keluar dari stasiun kita akan langsung memasuki Mall Bugis Junction. Ikutin aja jalan keluar lalu kita nyeberang jalan sampai memasuki Bugis Street yang rame banget toko jualan oleh-oleh. Sampe ujung Bugis Street, belok kanan, jalan lurus melewati 2x lampu merah, nah terminalnya ada di sebelah kiri jalan. Terminalnya kecil. Loket penjualan tiketnya cuman kayak loket semi-permanen dengan petugasnya uncle yang udah tua. Saya naik bus Causeway Link warna kuning menuju ke terminal JB Central (Johor Bahru) dengan harga tiket per orang SGD 3.3. Simpan tiketnya jangan sampe hilang karena tiket ini bakal kita perlukan lagi saat kita berpindah bus di imigrasi.



Menunggu sebentar, lalu bus pun berangkat. Bus ini gak pake nomor tempat duduk jadi kita bebas mau duduk di mana aja. Kira-kira setengah jam, bus pun memasuki area imigrasi Singapore. Disini kita harus turun dari bus untuk melewati proses imigrasi. Jangan lupa semua barang bawaan harus dibawa turun dari bus, karena bus yang kita naiki lagi nanti bakal berbeda. Abis turun bus, ikutin aja orang-orang yang naik ke lantai 2 untuk selanjutnya ngelewatin proses imigrasi keluar dari Singapore. Kelar imigrasi, kita turun lagi menuju ke area buat naik bus. Karena bus yang saya naiki tadi adalah bus Causeway Link, jadi saya antri di antrian yang ada tulisannya Causeway Link. Jangan salah tempat antri daripada musti ngulang antri lagi. Disini ada vending machine jualan minuman kaleng, jadi saya beli dulu buat ngabisin receh yang masih sisa dikit di dompet.

Setelah bus Causeway Link datang, saya naik lagi sambil nunjukin tiket yang tadi. Kalo tiketnya ilang kita bakal disuruh bayar lagi. Bus ini lalu nyeberang melewati selat untuk memasuki kota Johor Bahru. Welcome to Malaysia!

Busnya lalu masuk ke gedung imigrasi Malaysia. Prosesnya hampir sama kayak tadi. Di sini berhubung waktu itu saya kesana pas weekend, jadi konter imigrasinya ruame banget nget nget. Serasa lagi nonton konser saking ramenya. Saya ngabisin waktu 1 jam buat antri imigrasi disini. Setelah kelar proses imigrasi, turun lagi lalu naek bus lagi kayak tadi. Selanjutnya bus pun melaju menuju terminal JB Central. Kira-kira cuma 15-20 menit perjalanan, bus pun sampe juga di terminal.

Masuk ke terminal, ada banyak banget loket bus berbagai PO menuju berbagai destinasi di Malaysia, bahkan sampai ke Thailand juga ada. Untuk menuju ke Melaka ada banyak banget PO bus yang melayani perjalanan kesana. Saya memilih naik Causeway Link lagi. Harga tiketnya sampe ke Melaka MYR 22 atau cuma sekitar 70 ribuan aja. Masalahnya karena weekend rame banget, saya kebagian bus yang berangkat jam 5 sore. Jadilah saya musti nunggu sekitar 4 jam sampe bus berangkat. Damn.



Disini ada banyak tempat makan murah. Ada McD juga kalo mau nongkrong di ruangan AC. Cuman karena rame banget, jadi McDnya biasanya juga penuh. Saya ngabisin waktu buat nongkrong di foodcourt makan nasi briyani seharga MYR 8. Saya juga nyobain kursi pijat otomatis dengan harga MYR 5 per 20 menit. Lumayan ngilangin capek sih.

Akhirnya jam 5 dan bus pun siap berangkat. Busnya bagus, susunan kursinya 2-1 jadinya lega banget. Perjalanan menuju Melaka ditempuh sekitar 3 jam. Tapi lagi-lagi karena weekend, jadi saya sempet kena macet. Bus akhirnya sampe di terminal Melaka Sentral sekitar jam 9 malem.

Dari terminal Melaka Sentral, untuk menuju ke hostel yang sudah saya booking bisa menggunakan bus Panorama Melaka no. 17 yang menuju Stadhuys/Red Building. Masalahnya, karena udah malam jadi busnya sudah gak beroperasi lagi. Terpaksa akhirnya naek taxi. Biasanya naik taxi ongkosnya sekitar MYR 20, tapi karena udah malam, sopir taxinya pada gak mau kalo dibawah MYR 30. Yaudah deh akhirnya saya musti bayar segitu buat nyampe ke hostel. Sampe ke hostel, lagi-lagi saya kena sial. Pintu depan hostel digembok! Apa coba ada hostel pintunya digembok. Mana gak ada belnya lagi. Setelah ngetok2 pintu sambil teriak2 selama hampir 20 menit, akhirnya ada 1 orang yang turun bukain pintu. Hadehh.

Saya nginep di Lavender Guesthouse, ambil 1 bed di dormitory room selama 2 malam dengan harga MYR 44 atau sekitar 140ribu untuk 2 malam, include breakfast roti selai dan kopi/teh. Lumayan murah sih. Kamarnya bersih dan berAC, sekamar ada 6 bed yang waktu itu saya sekamar sama 2 orang bule, 1 orang India dan 1 orang China yang sudah berumur, tapi dia berani backpackeran sendirian keliling Asia. Padahal bahasa Inggrisnya gak lancar. Intinya traveling gak harus lancar bahasa Inggris deh pokoknya.

Lavender Guest House
Setelah istirahat sebentar dan mandi, saya keluar dari hostel buat nyari makan. Hostel ini deket banget sama Menara Taming Sari yang jadi salah satu ikonnya Melaka. Nyeberang jalan 1 kali juga sampe. De sebelah menara ada Mall Dataran Pahlawan yang gede. Cuman waktu itu mallnya udah tutup. Jadi saya beli makan mie goreng di kaki lima aja seharga MYR 5. Dibungkus aja buat makan di hostel. Balik hostel, makan malam, lalu saya lanjut istirahat bobo syantik.

Nite Melaka.

Pengeluaran Day 3:
- Sarapan : SGD 4.5
- Tiket bus : SGD 3.3
- Makan siang : MYR 8
- Tiket Bus Johor Bahru-Melaka : MYR 22
- Kursi Pijat : MYR 5
- Taxi : MYR 30
- Hostel 2 madam : MYR 44
- Makan malam : MYR 5

Total : SGD 7.8
           MYR 114

Tuesday, May 2, 2017

Keliling Singapore-Malaysia 7 hari cuma 1jutaan - Day 2

Alarm di henpon yang saya setel jam 6 pagi akhirnya mulai berisik ngebangunin saya yang lagi pules-pulesnya tidur di kursi panjang bandara. Sumpah, kalo pagi-pagi gini ternyata ACnya Changi duingin parah. Mungkin itu salah satu strategi perusahaan biar gak banyak traveler kere yang numpang tidur di bandara ya.
Mau gak mau akhirnya saya beranjak ke toilet dulu buat ritual sekaligus cuci muka en sikat gigi. Kelar dari toilet, saya menuju ke stasiun MRT. Dari sini kalo mau menuju ke stasiun MRT gampang banget, karena di Changi semua papan penunjuknya segede gaban en banyak banget. Jadi disini kita gak bakalan nyasar.

Sampe di stasiun, saya gak beli tiket terusan EZ-Link karena pas di Indonesia saya dapet sumbangan kartu EZ-Link gak kepake dari temen saya. Dan untungnya masih ada isinya sekitar 12 SGD. Lumayan banget mah buat 2 hari doank di Singapore.
Naik ke MRT, karena masih terlalu pagi jadi saya masih belom bisa check in hostel. Jadi saya menuju ke China Town terlebih dulu. Meskipun sebelomnya saya udah beberapa kali menginjakkan kaki ke Singapore, tapi saya sama sekali belom pernah mampir ke China Town maupun Little India. Jadi kali ini saya mau coba mampir kesana.

Dari MRT Changi, transit sekali di Outram Park, lalu cari MRT yang menuju ke arah Punggol, baru deh turun di stasiun China Town. Keluar dari stasiun, saya langsung ketemu deretan pertokoan khas China Town dengan banyak lampion merah yang bergantungan di atas jalan. Dan karena masih pagi, tentu saja semua tokonya belom ada yang buka. Kalopun buka juga saya gamau beli apa-apa sih.
Selanjutnya saya cuman muter-muter gak jelas di area China Town. Ketemu semacam kelenteng besar banget di deket People's Park yang saya gatau namanya. Lalu ketemu juga semacam kuil buat sembahyang warga India disini. Turis diperbolehkan masuk untuk melihat suasana peribadatan disini tapi diwajibkan melepas alas kaki dan dikenakan biaya. Jadi saya cukup lihat dari luar saja.







Capek jalan-jalan di China Town, saya balik menuju MRT Station untuk menuju ke Bugis.  Dari China Town naik MRT ke arah Punggol, transit di Little India, lalu pindah kereta turun di stasiun Bugis. Di Bugis ada satu warung mie wonton enak yang dulu sering saya makan bareng temen saya. Lokasinya dari kita keluar stasiun MRT nyeberang jalan melewati Bugis Street tempat orang rame jualan oleh-oleh, nyebrang jalan terus sampai ke Albert Street, nah lokasi warungnya ada di depan swalayan The OG, seberangnya The Bencoolen Apartment. Di sebelahnya warung mie ini ada warung yang jualan Bubble Tea. Harga mienya semangkuk 4 SGD. Sepertinya mengandung babi, jadi enggak halal ya. Warung ini baru buka jam 9, jadi saya nunggu sebentar baru dilayani oleh auntie penjualnya.









Dari Bugis, saya menuju Orchard Road. Ngapain saya ke Orchard padahal duit aja mepet? Yah cuci mata aja, sekaligus nyemil es krim satu dolar. Dari stasiun Bugis, ke arah City Hall transit disini, selanjutnya naik MRT ke arah Jurong East lalu turun di stasiun Orchard.

Stasiun MRT Orchard berada tepat di bawah ION Mall. Pagi-pagi mall ini udah rame dan toko-tokonya udah pada buka. Tapi berhubung ini mall menengah ke atas, saya buru-buru keluar dan cuman jala-jalan aja sepanjang trotoar di Orchard Road. Dari ION Mall saya belok ke kanan lalu menyusuri jalan. Pas nemu seorang uncle penjual es krim, saya beli yang rasa durian seharga 1,2 SGD. Di tempat lain yang bukan daerah turis, masih banyak yang jual es krim ini cuma 1 SGD. Tapi di daerah turis rata-rata menjualnya seharga 1,2-1,5 SGD.
Sambil makan es krim saya jalan terus sampe nemu mall 313 Somerset. Di situ saya naik ke lantai paling atas di daerah food courtnya. Di food court sini ada area outdoornya. Dari situ kita bisa liat pemandangan Orchard Road dari atas.




Pas matahari udah mulai diatas kepala, saya mulai menuju ke hostel buat check in. Saya naik dari MRT Somerset yang stasiunnya ada di bawah mall 313. Dari situ saya menuju ke Kallang Station, transit sekali di City Hall. Saya menginap semalam di City Backpackers Hostel @Kallang yang sudah saya booking sebelumnya via booking.com. Tarifnya semalam 15.3 SGD atau sekitar 140ribuan untuk kamar dorm. Lokasi hostelnya deket banget sama Kallang Station. Tinggal nyeberang jalan sekali udah sampe deh. Kamarnya, yah, ga bisa dibilang bagus sih. Menurut saya malah relatif kotor. Saya sekamar sama 2 orang India dan satu kakek-kakek Chinese yang siang-siang masih tidur. Kamarnya agak gelap dan lembab. Enaknya adalah meskipun siang hari tapi ACnya tetap dinyalakan. Jadi saya memutuskan buat tidur siang dulu sebentar. Yah maklum tadi malem tidurnya kurang nyenyak.
Bangun sekitar jam 3-4an, saya mandi dulu bentar, lalu siap jalan lagi muterin Singapore. Rencananya saya pengin ke Little India dulu karena belom pernah. Sekalian mampir ke Mustafa Centre beli cokelat buat oleh-oleh.

Di Little India saya langsung menuju Mustafa Centre untuk shopping cokelat. Sesaat kemudian hujan turun dengan lebatnya, jadi saya neduh dulu di depan Mustafa Centre.
Hujan turun lumayan lama. Setelah reda, saya berjalan kaki menuju MRT Farrer Park yang lokasinya gak jauh dari Mustafa Centre. Saya menuju lagi ke China Town. Kenapa balik ke Chiba Town lagi? Karena tadi pagi toko-tokonya masih pada tutup, jadi kurang berasa China Townnya. Kalo jam segini pasti udah pada buka, jadi bisa window shopping liat-liat ada toko apa aja disana. Ternyata isinya gak jauh beda sama yang dijual di Bugis Streer. Banyak pedagang oleh-oleh semacam gantungan kunci dan sejenisnya. Banyak juga rumah makan ala Chinese Food yang diragukan kehalalannya.

Dari ujung jalan China Town saya berbelok ke arah kiri menyusuri trotoar menuju ke arah Clarke Quay/Boat Quay. Ternyata gak terlalu jauh. Sebelum sampe ke jembatan di Boat Quay, ada semacam food court kecil di pojokan jalan jadi saya mampir dulu buat makan. Beli nasi campur 1 meat + 1 vegetable cuma $2,8 nasinya banyak banget jadi kenyang. Minumnya bekal air putih aja biar murah.
Kenyang, saya lanjut ke Clarke Quay. Hari sudah menjelang senja jadi pemandanga di sungai cukup bagus dengan langit yang mulai kemerahan. Saya berjalan menyusuri sungai ke arah Marina Bay sambil hunting foto. Pemandangan disini saat menjelang malam bagus banget, jadi saya cukup lama disini sambil foto2 dan sesekali nongkrong di pinggiran sungai sambil ngelamun.






Sampe ujung sungai, nyeberang jalan, sampailah saya di Merlion Park. Rame banget turis disini. Hunting foto lagi disini. FYI hunting foto di daerah turis begini susah karena banyak orang mondar mandir foto selfie.







Dari Merlion saya jalan kaki lagi sepanjang Marina Bay, melewati Helix Bridge yang goyang-goyang, menuju ke Marina Bay Sands. Saya pengen mampir ke casino buat liat-liat aja. Gak boleh maen judi, dosa :p
Masuk ke Mall, ngikutin petunjuk arah dan sampailah saya di casino. Untuk masuk kesini harus nunjukin paspor, jadi jangan lupa bawa paspor yak. Dalamnya luas banget semacam ballroom super besar yang isinya meja judi dimana-mana.rame banget orang yang lagi pada maen. Ada mesin minum gratisan kalo haus bisa minum softdrink atau ngopi disini. Lumayan lah gratisan.



Kelar dari Casino, balik lagi ke stasiun MRT di bawah mall buat balik ke hostel. Capek euy seharian jalan kaki.

Pengeluaran Day 2:
- Mie Wonton : 4 SGD
- Ice Cream Uncle : 1.2 SGD
- Hostel 1 malam : 15.3 SGD
- Nasi warteg ala Singapore : 2.8 SGD

Total Day 2 : 23.3 SGD sekitar Rp 220.000

Tuesday, October 11, 2016

Keliling Singapore-Malaysia 7 hari cuma 1jutaan - Day 1

Berhubung AirAsia BIG Point punya saya sudah terkumpul lumayan banyak, saya iseng-iseng hunting tiket murah buat destinasi yang deket-deket aja, yaitu Singapore and Malaysia, dengan pertimbangan biaya hidup disana yang enggak terlalu mahal. Maklum budget lagi mepet. Setelah ngubek-ngubek websitenya AirAsia, akhirnya saya nemu rute yang cucok buat backpackeran selama seminggu. Rute yang saya pilih yaitu Jakarta-Singapore naik AirAsia, stay di Singapore 2 malam, lalu lanjut perjalanan darat dari Singapore-Melaka naik bus, lalu stay di Melaka 2 malam lagi, lanjut naik bus lagi menuju Kuala Lumpur, stay 2 malam juga, baru balik ke Indonesia (Semarang) naik AirAsia.

Budget saya untuk trip kali ini adalah: 50SGD dan 300MYR serta bawa duit cadangan 300rb buat jaga-jaga.

Perjalanan saya dimulai hari Kamis, jadwal penerbangan sekitar jam 6 sore. Berhubung status saya yang masih karyawan, jadi saya musti ambil cuti setengah hari di hari kamis itu agar bisa sampai tepat waktu ke bandara. Jadi jam 2 siang saya sudah cus naik Gojek ke Soekarno-Hatta International Airport Terminal 3.

Sekitar jam setengah 4 saya tiba di Terminal 3. Masuk terminal, nongkrong dulu di Starbucks (soalnya masih ada saldo sisa di Starbucks Card, jadi lumayan sekalian nunggu pesawat). Setelah jam 5 lebih saya mulai bergegas menuju konter imigrasi. Skip skip lewat imigrasi dengan lancar, ternyata pesawatnya delay 1 jam. Disini kelihatan profesionalnya AirAsia, meskipun delay cuma 1 jam tapi semua penumpang kebagian snack box berisi roti dan air mineral. Coba kalo maskapai singa, saya pernah delai berjam2 enggak dapet apa-apa kecuali permohonan maaf.



Akhirnya sekitar jam 7 lebih pesawatnya berangkat. Mendarat di Changi sekitar jam 10 waktu setempat. Sebelum-sebelumnya saya belum pernah muter-muter bandara Changi, jadi di kesempatan ini saya pengen explore kecanggihan bandara ini. Sebenernya pengen nyobain kursi pijitnya, tapi ternyata penuh semua. Setelah muter-muter terminal 1 dan 2, saya mampir ke McD buat beli burger paling murah buat ganjel perut. Beli burger yang paling murah 2SGD tanpa minum. Minumnya aer putih aja ngisi dari tap water bandara.

Kelar makan, saya menuju konter imigrasi untuk cap paspor. Skip skip lewat imigrasi dengan lancar tanpa ditanya-tanyain petugasnya. Dari imigrasi saya menuju terminal 1 untuk nyari tempat tidur. FYI sebenarnya kalo mau nginep di bandara lebih enak di area sebelum keluar imigrasi. Masalahnya kalo kita tidur di dalam, biasanya bakal ada petugas bandara yang inspeksi penumpang yang lagi tidur. Kalo kita enggak lagi nunggu pesawat, kita bakal disuruh keluar. Jadi buat amannya, saya milih untuk keluar imigrasi terlebih dulu baru nyari tempat buat tidur.



Kelar imigrasi, saya menuju ke terminal 1 buat nyari tempat tidur di kursi-kursi panjang yang bertebaran di bagian depan terminal. Masih ada banyak kursi kosong yang tidak dipakai traveler buat tidur, jadi saya langsung merebahkan badan disana buat tidur, dengan backpack sebagai bantal dan jaket sebagai selimutnya. Met bobo.

Pengeluaran Day 1:
- Beli burger McD : 2SGD

Sunday, September 11, 2016

Japan Trip Day 7 : Digertak Yakuza di Harajuku!!!

Day 7 : Shinjuku - Harajuku - Shibuya

Lanjut lagi, maaf lama updatenya karena kesibuka ngantor T.T

7.1 Shinjuku

Pagi-pagi jam 7 nyampe di Tokyo, entah di stasiun mana waktu itu kami lupa karena ga terlalu merhatiin juga sih. Keluar dari bus langsung disambit udara dingin pagi hari, mana baru bangun tidur jadi kerasa banget duinginnya. Plus kami engga ada yang pake baju hangat, jadi dengan hanya jaket biasa masih kerasa dinginnya pagi hari. Di stasiun pemberhentian kami mampir dulu ke toilet buat cuci muka sama kencing. Setelah itu kami kebingungan nyari stasiun terdekat. Setelah tanya ke orang lewat (tante-tante sama anak cewenya yang sama-sama ga bisa bahasa inggris) melalui bahasa isyarat macem-macem, ternyata mereka juga lagi mau ke stasiun. jadi kami bertiga ngikutin mereka menuju ke stasiun bawah tanah yang ternyata lokasinya engga begitu jauh. Dari stasiun kami menuju ke Shinjuku dulu yang paling dekat untuk nitip tas di locker Shinjuku. Kami memilih nitip tas di Shinjuku karena stasiun ini lokasinya cukup strategis.

Selesai nitip tas, kami lanjut lagi buat cari sarapan. Karena di daerah Shinjuku rata-rata tempat makannya mahal-mahal dan lagian jam segini masih banyak yang tutup, jadi kami mutusin buat lanjut ke Harajuku.

7.2 Harajuku - Takeshita dori

Berhenti di Harajuku Station, kami nyebrang jalan persis di depan pintu keluar stasiun lalu mampir makan di Yoshinoya. Tentu saja pilihan kami makan disini adalah karena murah meriah hore. Setelah makan, selanjutnya kami bingung mau ngapain karena hari terakhir ini sebernya kami ga ada planning apa-apa. Awalnya saya ngusulin buat ke Doraemon Museum, tapi karena letaknya cukup jauh dan stamina kami bertiga sudah mulai menipis, kami urungkan rencana itu. Akhirnya kami berjalan-jalan di Takeshita-dori sambil nyari oleh-oleh yang murah di Daiso. Lumayan murah kalo beli oleh-oleh disini karena semua barangnya cuma 100 yen. Ada juga coklat kecil yang 100 yen dapat 3 ato 4 biji. Disini juga ada snack Jepang yang unik-unik dan murah. Jadi kalo mau berburu oleh-oleh murah yang gak terlalu spesial, saya rekomendasikan beli disini saja.




Dari Daiso kami lanjut jalan kaki lagi menyusuri jalanan Takeshita dori. Engga banyak anak muda yang dandan ala Harajuku juga hari ini. Kami malah lihat salah satu toko fashion yang kebarat-baratan dengan semua pelayannya orang kulit hitam. Agak lucu juga lihat orang-orang kulit hitam ngomong bahasa Jepang dengan lancar.

Sampe di pojokan jalan, saya berencana mampir ke Starbucks karena ada yang nitip buat dibeliin tumbler Starbucks yang ada tulisannya "Tokyo". Di trotoar saya nyempetin ambil foto2 pemandangan jalanan Jepang seperti biasa. Nah disini serunya. Saya ga nyadar, tiba-tiba ada 2 pria Jepang berbadan besar dengan setelan jas hitam kantoran mendatangi saya sambil marah-marah (pake bahasa Jepang) terus mereka nunjuk-nunjuk kamera saya. Waduh, bingung dong ane gan, ada apa ini. Setelah itu, masih sambil nyerocos bahasa planet, salah satu dari mereka yang badannya lebih gede ngebuka kancing atas kemejanya, dannnnn kelihatanlah itu badannya yang ternyata penuh tattoo. Mampus ane, ternyata mereka Yakuza!

Sepertinya saya ga sengaja motret mereka pas tadi lagi asik motretin pemandangan jalanan. Rupanya mereka ga suka difoto-foto kayak gitu. Lah lagian mana ane tau kalo mereka Yakuza. Terus saya buru-buru ngehapus foto-foto tadi sambil ngeliatin ke mereka kalo fotonya sudah dihapus. Udah gitu kayaknya mereka udah cukup puas, akhirnya mereka pergi tapi masih sambil ngomel-ngomel.

Buset. Masih pagi udah dapet masalah sama Yakuza. Wahahaha. Seru sih tapi deg-degannya masih kerasa seharian loh. Akhirnya kami mampir ke Starbucks dulu sekalian istirahat menenangkan diri yang masih pada shock.

Dari Starbucks kami balik lagi ke Takeshita dori buat nyicipin crepesnya yang terkenal itu. Ternyata antrinya lumayan panjang juga. Pilihan topping crepenya banyak banget. Tapi pas dicobain ternyata rasanya ya gitu doank sih. Enak tapi nothing special. Mana mahal lagi, hampir gocap kalo dirupiahin.

Udah agak siang menuju sore, dari Harajuku kami lanjut lagi ke Shibuya. Sepanjang siang sampe sore kami muter-muter gak jelas di Shibuya, masuk dari toko satu ke toko lain, semacam shopping tapi ga beli apa-apa. Sampe sore akhirnya kami mampir lagi ke Starbucks yang ada tepat di samping Shibuya Crossing. Starbucks yang ini ada di lantai 2, jadi dari jendelanya kita bisa ngeliat persimpangan Shibuya yang terkenal itu dari atas, so kita bisa ambil foto dari sini. Yang bikin kita nongkrong lama disini adalah karena kita merekam pemandangan orang nyebrang itu sambil dibikin video time-lapse, jadi butuh waktu cukup lama buat recordnya. Hasilnya cukup oke juga sih, bener-bener rame banget kalo dilihat dari atas.



Setelah gelap, kami cari makan lagi, masih di daerah Shibuya. Kami menelusuri jalan-jalan kecil sampai akhirnya menemukan sebuah kedai ramen yang kelihatannya enak. Harga ramennya cukup mahal sekitar 1000 yen per porsi. Non-halal. Rasanya enak, tapi menurut saya sih ramen yang kami makan di Akihabara itu masih yang paling enak sih, lebih murah pula. Tapi yang disini porsinya lebih banyak, jadi kenyang banget.



Selesai makan, kami kembali menuju stasiun. Pertama kami ambil tas dulu di Shinjuku, setelahnya kami bergegas menuju Haneda International Airport untuk kembali ke tanah air. Perjalanan kembali menuju bandara rutenya lebih mudah, sama sekali ga pake acara nyasar.

Di bandara kami sempet shopping sebentar, biasa, beli Tokyo Banana titipan banyak orang. Harga Tokyo Banana di bandara sama aja kayak kalo beli di luar bandara. Jadi kalo mau beli buat oleh-oleh mending beli di bandara saja biar ga repot bawanya. Di bandara juga ada toko Uniqlo dengan design kaosnya yang ekslusif Jepang. Harganya cukup murah dibandingkan kalo beli kaos-kaos Jepang di Harajuku. Jadi kalo mau beli kaos ala Jepang mending beli disini. Lebih murah dan bahannya lebih bagus.

Akhirnya, menjelang tengah malam, pesawat kami berangkat kembali menuju Kuala Lumpur untuk transit sejenak sebelum akhirnya kami kembali lagi ke tanah air tercinta.

See U next time Japan. 

Arigatou Gozaimasu!!!

Wednesday, June 8, 2016

Japan Trip Day 6 : Kyoto, Nishiki Market - Fushimi Inari - Kiyomizudera

Day 6 : Nishiki Market - Fushimi Inari - Kiyomizudera

Klik disini untuk nonton travel vlognya :)

Hari ini kami bangun agak siang demi memulihkan energi. Bebersih dulu mumpung showernya enak banget buat mandi, lalu lanjut sarapan gratis yang udah tersedia di communal room. Sarapannya cukup mewah untuk sekelah hostel. Seperti biasa ada roti tawar dengan pilihan selai untuk toppingnya dan toaster buat manggang rotinya, lalu ada juga beberapa kue seperti croissant dan apa lagi yang saya enggak tau namanya. Minumannya masih sama ada kopi dan teh. Kami mengisi perut dulu disini sampai kenyang sambil nongkrong-nongkrong. Salah satu kekurangan hostel ini adalah suasana kekeluargaan antar penghuninya yang kurang. Saya pernah menginap di sebuah hostel di Seoul dan disana sesama penghuninya saling kenal dan akrab seperti teman lama. Nah, suasana seperti itu tidak saya rasakan disini, mungkin karena hostelnya mewah jadi kesan individualisnya lebih terasa. Saat sarapan juga penghuninya makan berkelompok sendiri-sendiri dan tidak ada yang mencoba mengobrol dengan traveler lain. Tapi karena kami juga cuma semalam disini, jadi ya gak terlalu kenapa-kenapa juga sih.

Selepas makan, kami lanjut mengambil barang-barang kami untuk dititipkan di resepsionis. Jadi selama berkeliling Kyoto hari ini, semua bawaan akan kami titipkan di resepsionis hostel, kecuali tas kecil buat nyimpen barang-barang berharga. Daripada nitip tas di locker, nitip tas disini lebih ngirit karena gratis. Kami juga membeli tiket bus Kyoto untuk 1 day pass seharga 500 yen per orang. Dengan tiket ini kita bebas naik bus di Kyoto seharian penuh.

6.1 Nishiki Market
Rencana pertama, hari ini kami akan mengunjungi Fushimi Inari yang terkenal dengan tori-tori merahnya. Dari Hostel kami menuju ke arah kanan, mengikuti jalan setapak untuk menuju halte bus yang akan membawa kami ke Kyoto Station untuk selanjutnya berpindah ke bus yang menuju Fushimi Inari. Saat berlalan menuju halte, ternyata kami melewati Nishiki Market. Ini adalah pasar tradisional terbesar di Kyoto. Nishiki Market menjual berbagai macam makanan dan barang-barang menarik. Macam-macam street food Jepang bisa ditemukan disini seperti takoyaki, lalu seafood mentah mentah yang dipajang di pinggir jalan, dan sebagainya. Banyak juga toko yang menjual makanan ringan ala Jepang yang bisa dijadikan oleh-oleh. Harganya terbilang standar, tidak terlalu mahal. Saran saya sih kalo mau hunting oleh-oleh di Kyoto bisa coba beli disini aja karena pasarnya terbilang besar dan komplit.



Keluar dari Nishiki Market, kami sampai ke sebuah jalan besar dengan deretan pertokoan di sampingnya. Kami lalu menyeberang jalan untuk menuju halte yang ada disana. Tidak menunggu lama, bus menuju Kyoto Station sudah datang. Kami masuk dan menunjukkan kartu Kyoto bus pass tadi dan langsung dipersilakan masuk oleh si pak sopir. Kyoto Station tidak jauh dari halte itu. Sekitar 10-15 menit kami sudah sampai kesana. Di samping Kyoto Station ada Kyoto Tower yang menjulang gagah. Nah, dari sini kami kebingungan untuk mencari bus mana yang menuju ke Fushimi Inari, karena papan petunjuknya banyak yang menggunakan hurup Jepang. Lalu kami bertanya ke seorang penduduk lokal yang tidak bisa bahasa Inggris. Tapi karena kami menyebutkan nama “Fushimi Inari” dia pun ngerti tujuan kami lalu menunjukkan platform tempat bus kami akan datang. Ternyata bus ke Fushimi Inari jadwalnya masih lama, sekitar 40 menit lagi baru datang. Ya sudah kami menunggu di platform itu sambil ngemil cemilan yang tadi dibeli di Nishiki Market.

6.2 Fushimi Inari

Akhirnya bus pun datang. Perjalanan menuju Fushimi Inari ditempuh sekitar setengah jam. Dari arah halte kami turun, kami langsung melihat rombongan turis dan penduduk lokal yang sudah jelas akan berkunjung juga ke Fushimi Inari. Kami tinggal mengikuti arah mereka berjalan sampailah kami ke Fushimi Inari. Di bagian depannya ada banyak stand penjual makanan Jepang. Harga makanan disini cukup mahal, rata-rata 400-500 yen, tapi kami mencoba membeli gyoza dan yakisoba. Gyozanya enak, tapi yakisobanya masih kalah jauh dari enaknya indomie.






Masuk ke area pelataran Fushimi Inari, kami disambut oleh gerbang merah raksasa disusul dengan kuil tradisional berukuran besar di baliknya. Kuil ini sepertinya dikhususkan untuk memuja dewa sejenis rubah karena banyak patung rubah disini. Ada legenda juga mengenai beberapa turis yang bertemu dengan siluman rubah saat datang kesini pada malam hari. Untung saja kami kesininya siang. Setelah foto-foto narsis di situ, kami lanjut masuk ke area selanjutnya yang berisi deretan ratusan tori merah yang terkenal itu. Tempat ini sangat bagus buat foto-foto. Kalo bawa duit lebih sih lebih baik sewa Yukata atau Kimono biar fotonya lebih otentik. Jalan setapak diantara gerbang tori ini sangat panjang dan menanjak. Karena waktu kami tidak banyak, sesampainya di tengah jalan kami memutuskan untuk balik saja daripada kehabisan waktu disini. Tujuan kami selanjutnya adalah ke Kiyomizudera.

6.3 Kiyomizudera
Kiyomizudera adalah sebuah kuil tradisional Jepang yang unik karena seluruh bangunannya terbuat dari kayu dan dalam proses pembuatannya sama sekali tidak menggunakan paku untuk menyambung semua konstruksinya. Namun bangunannya masih tetap berdiri kokoh hingga saat ini. Untuk menuju kesana, dari Fushimi Inari menuju Kiyomizudera bisa ditempuh melalui 2 cara. Yang pertama menggunakan bus melalui jalur yang tadi kembali ke Kyoto Station lalu berganti bus menuju Kiyomizudera. Cara kedua lebih gampang yaitu menggunakan kereta melalui stasiun yang ada di depan Fushimi Inari menuju Kiyomizugojo station. Meskipun cukup sekali naik kereta, namun harus mengeluarkan biaya lagi plus setelahnya harus berjalan kaki cukup jauh dari stasiun Kiyomizugojo menuju ke Kiyomizudera. Awalnya kami mencoba menggunakan bus, namun karena busnya enggak dateng-dateng, kami beralih naik kereta. Perjalanannya cukup singkat, dalam sekejap keretanya datang dan dalam sekejap pula nyampe ke stasiunnya Kiyomizudera. Nah, dari stasiun ini perjalanannya jalan kaki menuju Kiyomizudera harus ditempuh cukup jauh. Sekitar setengah jam jalan kaki cukup capek juga. Abang lelah dek.

Di Kiyomizudera ternyata rame banget. Kebanyakan malah wisatawan lokal. Di bagian depan Kiyomizudera ada beberapa bangunan tradisional yang berfungsi sebagai gerbang masuk menuju bangunan utama Kiyomizudera. Untuk dapat mengunjungi bangunan utama Kiyomizudera kita diharuskan membeli tiket masuk seharga 300 yen per orang. Cukup mahal juga sih. Setelah membeli tiket kami mengikuti arus manusia yang naik ke bagian atas area kuil. Di bagian dalamnya ternyata semakin ramai. Padahal saat itu bukan hari libur, tapi banyak sekali orang Jepang yang berkunjung ke situ.



Di bagian dalamnya seperti biasanya ada altar tempat berdoa dan macam-macamnya. Untuk berfoto ala turis dengan background Kiyomizudera, kita harus keluar dari kuilnya untuk naik lagi ke bagian atas. Waktu itu disana masih ada bangunan yang direnovasi. Seharusnya saat ini sudah jadi. Sepertinya akan dijadikan bangunan untuk turis karena arsitekturnya modern. Nah dari depan bangunan ini kita bisa melihat view kota Kyoto sambil berfoto dengan latar Kiyomizudera. Akan tetapi disini juga rame banget. Untuk dapat posisi yang enak untuk berfoto kami harus rebutan dengan ratusan pengunjung yang lain.






Tidak banyak yang bisa dilihat disini selain kuilnya. Jadi setelah itu kami pun turun dan keluar lagi ke depan. Di bagian depan pintu masuk ada deretan pertokoan yang menarik. Banyak yang jual pernak pernik khas Kyoto di sini. Harganya standar ala tempat wisata jadi emang engga terlalu murah. Tapi yah beberapa masih ada yang terjangkau sih. Kami melihat-lihat di pertokoan ini sampai hari mulai gelap. Setelah itu kami lanjut ke halte bus di ujung jalan untuk balik lagi ke halte dekat hostel tadi pagi. Naik bus gratis karena kami masih punya kartu freepassnya. Sampai di halte tujuan, kami balik lagi ke hostel melewati jalan yang sama seperti waktu kita berangkat yaitu melewati Nishiki Market. Masih ada beberapa toko dan restoran yang buka disini. Tapi kami memutuskan untuk makan di warung ramen yang ada di samping hostel. Warung ramen ini cukup kecil dan sepi tapi interiornya Jepang banget. Rasa makanannya juga enak. Saya pesan ramen dengan daging pork. Sedikit kalah enak dibanding ramen yang pertama kali kami makan di Akihabara sih. Dan sedikit lebih mahal. Tapi tetap enak.



Selesai makan kami balik ke hostel untuk ambil tas yang kami titipkan. Kami masih diijinkan untuk beristirahat di ruang santai hostel sambil masak mie instan dan bikin kopi. Bahkan kami pun masih boleh pinjam handuk di resepsionis jadi kami masih bisa numpang mandi terlebih dulu. Very recommended pokoknya pelayanan hostel ini. Sayang harganya juga enggak murah. Setelah mandi dan istirahat, sekitar pukul 10 kami memutuskan untuk berangkat ke Kyoto Station. Bus yang kami pesan menuju Tokyo akan berangkat tepat dari seberang Kyoto Station. Jadi kami kembali naik kereta dari stasiun Karasuma Oike menuju ke Kyoto Station. Bayar tiketnya sebesar 210 yen. Ternyata keretanya sampai ke Kyoto Station dengan cukup cepat. Jadi kami sampai ke tempat pemberangkatan busnya kecepetan. Kami terpaksa menunggu busnya datang jam 12 malam di pinggir jalan karena kalo dari Kyoto tidak ada ruang tunggunya, jadi kami terpaksa duduk di trotoar sambil kedinginan karena cuaca malam itu cukup dingin.

Akhirnya bus datang sedikit terlambat sekitar 10 menit. Kami masuk ke bus, dapat tempat duduk di lantai atas lagi. Hari ini sungguh melelahkan jadi begitu bus berangkat kami langsung ketiduran.

Pengeluaran hari ke-6:
-Tiket bus 1 day pass : JPY 500
-Beli makan di Fushimi Inari : JPY 500
-Tiket kereta Fushimi Inari ke Kiyomizudera : JPY 210
-Tiket Masuk Kiyomizudera : JPY 300
-Makan malam : JPY 500
-Tiket kereta Karasuma-oike ke Kyoto Station : JPY 210

Total : JPY 2220

[Review] Lensa Fujian 25mm f1.8, Murah dan Ringan untuk Traveling.

Traveling dan fotografi bagaikan Romeo dan Juliet. Bagaikan Rama dan Shinta. Bagai Song Jong Ki dan Song Hye Kyo. Tak terpisahkan dan me...